Archive for January, 2007

Life is a Roller Coaster

Monday, January 29th, 2007

 Hehehehehe… gw kira tdnya lagu ini akan sesuai dengan keadaan gw akhir-akhir ini.
Cuma ternyata gw salah…

Cuma bagian akhir reffain dari lagu ini yang ada di pikiran gw..
Life is a Roller Coaster..
lo ga akan tau bahwa perbedaan antara kebahagiaan dan kesedihan sangatlah tipis.

Pada suatu menit, lo mendapatkan kebahagiaan…
dan berubah menjadi kesedihan yang mendalam di menit yang lain.

Lo merasa jatuh cinta kepada seseorang yang baru lo temui
tapi keesokan harinya lo mendapatkan masalah karena cinta itu

Life is a roller coaster… hidup itu naik turun, ga selamanya akan selalu ada di atas

But hey, roller coaster itu menyenangkan…. so, hidup itu juga menyenangkan…

Ayo, kita naik roller coaster lagi…. ;)

*sebuah omongan gw lagi yang ga tau mau ngomong apaan…

What a weekend

Sunday, January 21st, 2007

Weekend ini berhasil gw lalui dengan cukup menyenangkan. Jumat malem, gw nonton babel…abis itu ke kantor temen gw, n nongkrong disana cukup lama… dengerin curhatan orang pas gw ampe rumah… sabtunya, gw menikmati kesendirian siaran (waktu itu partner siaran gw lagi ke bandung)… trus main ke tempat ponakan gw… duh, kangen juga ama mereka.. hehehehe… abis itu malemnya jalan2 ama temen2.. dapet traktiran karena temen gw ulang tahun…
Minggu pagi, bangun agak siang… trus siangan dikit main ke toko temen gw, ngliat hasil desain baju gw… abis itu, pergi rame2 nonton siaran langsung dan meet and greet dengan salah satu legenda di tim favorit gw. Eh, disana ketemu ama para presenter2 gokil dari singapura… ditambah gw juara lomba makan.. lumayan deh.. jadilah weekend ini cukup menyenangkan, tanpa harus keluar ongkos banyak… :P

gw jadi inget, minggu lalu dan 2 minggu yang lalu, wiken gw ga se-ceria ini. Banyak pertanyaan yang berkecamuk di dalam kepala gw. Dan akhirnya seminggu kemaren gw cukup mendapatkan jawabannya.Walaupun nggak 100% memuaskan gw.. tapi gw cukup lega menghadapi kenyataan yang ada. Yah, better luck next time…

Ngomong2 soal better luck, emang kalo udah nggak rejeki, susah deh.. tadi 3 temen gw kehilangan peluang mendapatkan hadiah karena asik nongkrong diluar… sayang sekali… yah, itulah mungkin kalo bukan rejeki. Better luck next time pal!

Babel (spolier alert?)

Friday, January 19th, 2007

Akhirnya, gw nonton Babel juga semalam, setelah tertunda-tunda karena satu dan lain hal.

Film yang disutradarai oleh Alejandro González Iñárritu (21 grams) ini cukup menarik, dengan 3 cerita yang berbeda yang ternyata memiliki benang merah antara satu dengan yang lainnya.

Cerita diawali di maroko, kemudian berpindah ke San Diego, dan dilanjutkan di Tokyo. Mereka semua saling terkait antara satu dengan yang lainnya, tapi memiliki konflik sendiri-sendiri di cerita itu.

Satu hal yang cukup bikin gw kecewa, pada awalnya gw mengira bahwa antara ketiga cerita yang berbeda itu memiliki keterkaitan dalam segi konfik antara satu dengan yang lainnya. Ternyata konflik berjalan sendiri-sendiri. Tadinya gw berharao bahwa masing-masing cerita akan memiliki konflik yang sama, yang cukup kompleks.

Cuma ada 1 hal yang cukup menarik disini, ternyata apa yang kita lakukan, sekecil apapun itu, bisa menimbulkan konflik yang cukup besar untuk orang lain. Gw jadi teringat ama salah satu edisi Donal Bebek yang menceritakan bagaimana donal frustasi dengan hidupnya, dan berpikir seandainya dirinya ga ada, apa yang akan terjadi pada kehidupan kota. Ternyata kota bebek tidak berjalan lebih buruk dari sekarang.

Melihat film sekarang, gw jadi berpikir. Kadang-kadang gw merasa bahwa kehidupan gw di sini ini ga ada gunanya. Gw cuma bisa jadi beban untuk orang lain, ngrepotin orang, dsb2.  Setelah liat film semalem, gw jadi berpikir, bahwa apa yang gw lakukan akan berdampak ke orang lain, baik itu buruk maupun baik. Ternyata emang Allah menciptakan seorang manusia untuk tujuan tertentu, karena bagaimanapun, dia dibuat untuk menyeimbangkan alam ini. Jika satu elemen yang seharusnya ada menjadi tiada, makan keseimbangan alam ini tentu akan terganggu. Dan kehidupan tidak akan berjalan sebagaimana mestinya sekarang.

Me, and Myself

Friday, January 19th, 2007

"Hei!!!" suara itu nongol lagi…
"Yep, ada apaan?" sahutku..
"Kenapa lagi kamu? Kok aku berasa gerah di dalam?" tanyanya..
"Biasalah, masalah hati…Aku gagal.. mungkin memang aku nggak ditakdirkan untuk bersamanya.. padahal, sudah lama sekali aku nggak merasakan hal seperti ini teman"
"hehehehehe… kamu tuh… sudahlah, ga usah terlalu dipikirkan… jalani hidupmu dulu"
"Dulu aku pernah berjanji pada diriku, bahwa aku nggak mau jatuh cinta dulu. Aku ingin konsentrasi ke diriku sendiri"
"Trus?" dia bertanya lagi
"Aku melanggar janjiku sendiri… Aku jatuh cinta lagi, dan harus menderita lagi…"
"Aku merasa hidup lagi, aku sadar, bahwa aku masih bisa merasakan kebahagiaan cinta lagi.. tapi sayang.. aku masuk di saat yang salah…"
"Sudahlah, mungkin memang belum saatnya kau jatuh cinta.. "
"Aku pingin sekali merasakan kebahagiaan itu lagi… kini aku nggak tau, apakah aku masih bisa merasakan hal itu lagi.."
"Ya udah, trus maumu apa sekarang? Secara aku adalah dirimu, mungkin cuma aku yang bisa membantumu teman"
"Bisakah kau masuk ke dalam hatiku, cari seseorang bernama cinta disana, sekap, dan kubur dia di tempat terdalam di dalam hatiku?"
"Teman, kita hidup karena cinta, senang karena cinta, mati karena cinta, kalo kamu ingin aku menyekap cinta dan menghilangkannya dari hatimu, trus, kamu bukan manusia lagi dunk?"
"Tapi cinta bukan bikin aku senang kawan, dia selalu membuat sakit semakin kuat… dia selalu membuat aku menderita. Menyebabkan kepalaku berpikir keras, perasaanku bimbang, ach.. buat aku, ga ada positif-positifnya cinta deh… "
"Ya udah, ntar coba aku cari dia, dan coba aku ajak ngomong dia baik2… supaya dia bisa lebih mengontrol dirinya, ga seperti sekarang ini…"
"Makasih teman, ntar tolong bilang ke iri dan dengki juga, jangan pernah sekali2 berusaha mempengaruhi aku lagi yaks… "
"hehehehe.. emang td sempet terpengaruh?"
"Hampir sih, untung sang jiwa menyematkan diriku dengan kebesarannya…"
"Ya wis, aku ke dalam dulu yaks… buat ngobrol ama cinta"
"Sip.. take care dan semoga sukses yah…."

Thursday, January 18th, 2007

Bye-bye love.. bye-bye life…

welcome my new world….

Tak Cukup Hanya Cinta

Thursday, January 18th, 2007

 "Sendirian aja dhek Lia? Masnya mana?", sebuah pertanyaan tiba-tiba

mengejutkan aku yang sedang mencari-cari sandal sepulang kajian tafsir

Qur’an di Mesjid komplek perumahanku sore ini.

Rupanya Mbak Artha tetangga

satu blok yang tinggal tidak jauh dari rumahku. Dia rajin datang ke

majelis taklim di komplek ini bahkan beliaulah orang pertama yang aku

kenal disini, Mbak Artha juga yang memperkenalkanku dengan majelis taklim

khusus Ibu-ibu dikomplek ini.

Hanya saja kesibukan kami masing-membuat

kami jarang bertemu, hanya seminggu sekali saat ngaji seperti ini atau

saat ada acara-acara di mesjid. Mungkin karena sama-sama perantau asal

Jawa, kami jadi lebih cepat akrab.

 

"Kebetulan Mas Adi sedang dinas keluar kota mbak, Jadi Saya pergi

sendiri", jawabku sambil memakai sandal yang baru saja kutemukan diantara

tumpukan sandal-sendal yang lain. "Seneng ya dhek bisa datang ke pengajian

bareng suami, kadang mbak kepingin banget ditemenin Mas Bimo menghadiri

majelis-majelis taklim", raut muka Mbak Artha tampak sedikit berubah

seperti orang yang kecewa.

Dia mulai bersemangat bercerita, mungkin lebih

tepatnya mengeluarkan uneg-uneg. Sebenarnya aku sedikit risih juga karena

semua yang Mbak Artha ceritakan menyangkut kehidupan rumahtangganya

bersama Mas Bimo. Tapi ndak papa aku dengerin aja, masak orang mau curhat

kok dilarang, semoga saja aku bisa memetik pelajaran dari apa yang

dituturkan Mbak Artha padaku.

Aku dan Mas Adi kan menikah belum genap

setahun, baru 10 bulan, jadi harus banyak belajar dari pengalaman pasangan

lain yang sudah mengecap asam manis pernikahan termasuk Mbak Artha yang

katanya sudah menikah dengan Mas Bimo hampir 6 tahun lamanya.

"Dhek Lia, ndak buru-buru kan? Ndak keberatan kalo kita ngobrol-ngobrol

dulu", tiba-tiba mbak Artha mengagetkanku. " Nggak papa mbak, kebetulan

saya juga lagi free nih, lagian kan kita dah lama nggak ngobrol-ngobrol" ,

jawabku sambil menuju salah satu bangku di halaman TPA yang masih satu

komplek dengan Mesjid.

 

Dengan suara yang pelan namun tegas mbak Artha mulai bercerita. Tentang

kehidupan rumah tangganya yang dilalui hampir 6 tahun bersama Mas Bimo

yang smakin lama makin hambar dan kehilangan arah.

"Aku dan mas Bimo kenal sejak kuliah bahkan menjalani proses pacaran

selama hampir 3 tahun sebelum memutuskan untuk menikah. Kami sama-sama

berasal dari keluarga yang biasa-biasa saja dalam hal agama", mbak Artha

mulai bertutur.

"Bahkan, boleh dibilang sangat longgar. Kami pun juga

tidak termasuk mahasiswa yang agamis. Bahasa kerennya, kami adalah

mahasiswa gaul, tapi cukup berprestasi. Walaupun demikian kami berusaha

sebisa mungkin tidak meninggalkan sholat. Intinya ibadah-ibadah yang wajib

pasti kami jalankan, ya mungkin sekedar gugur kewajiban saja. Mas Bimo

orang yang sabar, pengertian, bisa ngemong dan yang penting dia begitu

mencintaiku, Proses pacaran yang kami jalani mulai tidak sehat, banyak

bisikan-bisikan syetan yang mengarah ke perbuatan zina. Nggak ada pilihan

lain, aku dan mas Bimo harus segera menikah karena dorongan syahwat itu

begitu besar. Berdasar inilah akhirnya aku menerima ajakan mas Bimo untuk

menikah".

 

"Mbak nggak minta petunjuk Alloh melalui shalat istikharah?" , tanyaku

penasaran. "Itulah dhek, mungkin aku ini hamba yang sombong,untuk urusan

besar seperti nikah ini aku sama sekali tidak melibatkan Alloh. Jadi kalo

emang akhirnya menjadi seperti ini itu semua memang akibat perbuatanku

sendiri"

 

"Pentingnya ilmu tentang pernikahan dan tujuan menikah menggapai sakinah

dan mawaddah baru aku sadari setelah rajin mengikuti kajian-kajian guna

meng upgrade diri. Sejujurnya aku akui, sama sekali tidak ada kreteria

agama saat memilih mas Bimo dulu. Yang penting mas Bimo orang yang baik,

udah mapan, sabar dan sangat mencintaiku.

Soal agama, yang penting

menjalankan sholat dan puasa itu sudah cukup. Toh nanti bisa dipelajari

bersama-sama itu pikirku dulu. Lagian aku kan juga bukan akhwat dhek, aku

Cuma wanita biasa, mana mungkin pasang target untuk mendapatkan ikhwan

atau laki-laki yang pemahaman agamanya baik", papar mbak Artha sambil

tersenyum getir.

 

Aku perbaiki posisi dudukku, aku pikir ini pengalaman yang menarik. Rasa

penasaran dan sedikit nggak percaya karena Mbak Artha yang aku kenal

sekarang adalah tipikal wanita sholehah, berhijab rapi, tutur kata lembut,

tilawahnya bagus dan smangatnya luar biasa. Benar-benar jauh dari profil

yang di ceritakan tadi.

Ternyata benar kata pepatah, bahwa pengalaman

adalah guru yang paling berharga. Mungkin bertolak dari minimnya

pengetahuan agama, akhirnya mbak Artha berusaha keras untuk meng-up grade

diri. Dan subahanalloh hasilnya sungguh menakjubkan. Mbak Artha mekar

laksana bunga yang sedang tumbuh di musim semi, tapi siapa sangka ternyata

indahnya bunga itu tak lain karena kotoran-kotoran hewan yang menjadi

pupuk disepanjang kehidupannya.

 

Rupanya harapan mbak Artha untuk bisa menimba ilmu agama bersama-sama sang

suami tinggal impian. Mas Bimo yang diharapkan bisa menjadi katalisator

dan penyemangat ternyata hanya jalan ditempat. Hapalan Juz Amma nya belum

bertambah, tilawah Al Qur’an-nya masih belum ada perbaikan masih belum

lancar.

Sementara kesibukannya sebagai Brand Manager di salah satu

perusahaan Telco milik asing, makin menyita waktu dan perhatiannya. Masih

syukur bisa mengahabiskan weekend bersama Mbak Artha dan Raihan anak

semata wayang mereka, kadang weekend pun mas Bimo harus ke kantor atau

meeting dan lain-lain. Tidak ada waktu untuk menghadiri majelis taklim,

tadarus bersama bahkan sholat berjama’ah pun nyaris tidak pernah mereka

lakukan.

 

Aku jadi teringat khutbah pernikahanku dengan Mas Adi, waktu itu sang

ustad berkata "Rumah tangga yang didalamnnya ditegakkan sholat berjam’ah

antara anggota keluarga serta sering dikumandangkan ayat-ayat Allloh akan

didapati kedamaian dan ketenangan didalamnya"

 

"Dhek….", suara mbak Artha membuyarkan lamunanku. "Iya mbak, saya masih

denger kok. Saya hanya berpikir ini semua bisa menjadi ladang amal buat

mbak Artha", jawabku sigap supaya nggak terlihat kalau emang lagi

ngelamun.

"Pada awalnya aku juga berpikir seperti itu dhek. Aku berharap Mas Bimo

juga memiliki keinginan yang sama dengan ku untuk memperdalam pengetahuan

kami terhadap Islam. Aku cukup gembira ketika mas Bimo menyambut ajakanku

untuk sama-sama belajar.

Namun dalam perjalanannya, smangat yang kami

miliki berbeda. Mas Bimo seolah jalan ditempat. Sempat miris hati ini

ketika suatu saat aku meminta beliau menjadi imam dalam sholat magrib.

Bacaan suratnya masih yang itu-itu juga dan masih terbata-bata. Aku baru

tau bahwa dia belum pernah khatam Qur’an. Harusnya kan suami itu imam

dalam keluarga ya dhek?", mata mbak Artha mulai berkaca-kaca.

 

"Apa harapanku terlalu tinggi terhadap suamiku? Bukankah harusnya suami

itu adalah Qowwam, pemimpin bagi istrinya. Lalu bagaimana jika sang

pemimpin saja belum memiliki bekal yang cukup untuk menjadi seorang

pemimpin?", suara mbak Artha mulai bergetar.

 

"Terkadang aku ingin sekali tadarus bersama suami, tapi itu semua nggak

mungkin terjadi selama suamiku tidak mau belajar lagi membaca Al-qur’an.

Aku juga merindukan sholat berjama’ah dimana suami menjadi imannya

sementara kami istri dan anak menjadi makmumnya. Apa keinginanku ini

berlebihan dhek?", tampak bulir bening mulai mengalir dipipi mbak Artha.

 

"Berbagai cara sudah ku coba, supaya Mas Bimo bersemangat memperbaiki diri

terutama dalam hal ibadah.

Tentunya dengan sangat hati-hati supaya tidak

menyinggung perasaannya dan supaya tidak berkesan menggurui. Aku mulai

rajin mengikuti kajian-kajian keislaman, mencoba sekuat tenaga untuk

sholat 5 waktu tepat pada waktunya dan tilawah qur’an setelah sholat

subuh. Bahkan berusaha bangun malam menunaikan tahajud serta menjalankan

sholat dhuha dipagi hari.

Semuanya itu kulakukan, dengan harapan mas Bimo

pun akan menirunya. Aku berharap sekali dia terpacu dan semangat, melihat

istrinya bersemangat" , papar mbak Artha dengan suara yang agak tinggi.

 

"Tapi sampai detik ini semuanya belum membuahkan hasil. Aku seperti orang

yang berjalan sendiriian. Tertatih, jatuh bangun berusaha menggapai cinta

Alloh. Aku butuh orang yang bisa membimbingku menuju surga. Dan harusnya

orang itu adalah Mas Bimo, suami ku"

Kurangkul pundaknya, sambil berbisik "sabar ya mbak, mudah-mudahan semuai

harapanmu akan segera terwujud". Mbak Artha tampak agak tenang dan mulai

melanjutkan ceritanya.

 

"Dari segi materi materi apa yang Mas Bimo berikan sudah lebih dari

cukup, overall Mas Bimo suami yang baik dan bertanggung jawab. Bahtera

rumah tangga kami belum pernah diterpa badai besar, semuanya berjalan

lancar.

Sampai disuatu saat mbak mulai menyadari sepertinya bahtera kami

telah kehilangan arah dan tujuan. Kami hanya mengikuti arus kehidupan yang

smakin lama smakin membawa kami kearah yang tidak jelas. Kami sibuk dengan

aktifitas kami masing-masing. Kehangatan, kemesraan, ungkapan sayang yang

dulu paling aku kagumi dari Mas Bimo sedikit demi sedikit terkikis di

telan waktu dan kesibukannya.

Dan yang lebih parahnya lagi, unsur religi

sama sekali tak pernah di sentuh Mas Bimo sebagai kepala keluarga. Fungsi

Qowam sebagai pemimpin dalam menggapai cinta hakiki dari Sang Pemilik

Cinta, terabaikan. Mungkin karena memang bekalnya yang kurang. Sunguh,

harapan menggapai sakinah dan mawaddah serta rahmah semakin hari kian jauh

dari pandangan. Rumah tangga kami bagai tanpa ruh dan kering", suara mbak

Artha mulai bergetar kembali.

 

Aku jadi speachless nggak tau musti berkata apa lagi. Ternyata ketenangan rumah tangga mbak

Artha, menyimpan suatu bara yang setiap saat bisa membakar hangus

semuanya. Hanya karena satu hal, yaitu alpanya sentuhan spritual dalam

berumahtangga. Atau mungkin juga adanya ketidaksamaan visi atau tujuan

saat awal menikah dulu.

Bukankan tujuan kita menikah adalah ibadah untuk

menyempurnakan setengah agama. Idealnya, setelah menikah keimanan, ibadah

kita makin meningkat. Karena ada suami yang akan menjadi murobbi atau

mentor bagi istri, atau kalaupun sebaliknya jika istri yang lebih berilmu

tidaklah masalah jika istri yang menjadi mentor bagi suami.

Yang penting

tujuan menyempurnakan dien guna menggapai sakinah dan mawaddah melalui

cinta dan rahmah makin hari makin terwujud. Mungkin itulah sebabnya

mengapa kreteria agama lebih diutamakan daripada fisik, harta dan

keturunan.

 

Ternyata cinta saja tak cukup untuk bekal menikah, begitupun dengan harta.

Pernikahan merupakan hubungan secara emosional yang harus ditumbuhkan

dengan sangat hati-hati, penuh kepedulian dan saling mengisi.Bahkan puncak

kenikmatan sebuah pernikahan bukanlah dicapai melalui penyatuan fisik saja

melainkan melalui penyatuan emosional dan spiritual. Pernikahan adalah

sarana pembelajaran yang terus menerus. Baik untuk mempelajari karakter

pasangan ataupun untuk meng upgrade diri masing-masing.

 

"Dhek Lia….", Mbak Artha membuyarkan lamunanku. "Makasih ya dhek dah mau

jadi kuping buat mbak", mbak Artha menggenggam tanganku sambil tersenyum.

"Mbak yakin dhek Lia bisa dipercaya, do’akan supaya aku diberikan jalan

yang terbaik sama Alloh".

 

Aku pun tersenyum, "Insyaalloh mbak, maksih juga dah mau sharing masalah

ini dengan saya. Banyak hikmah yang bisa saya dapat dari cerita mbak. Saya

masih harus banyak belajar soal kehidupan berumah tangga mbak.

Jazakillah".

 

Tak terasa hampir 2 jam kami ngobrol di teras TPA. Kumandang adzan dhuhur,

mengakhiri obrolan kami. Sambil menuju tempat wudhu mesjid untuk sholat

dhuhur berja’maah kusempatkam mengirim sms ke mas Adi.

"Mas aku kangen, kangen sholat bareng, kangen tadarus bareng cepet pulang

ya Mas. Uhibbukafillahi Ta’ala"

sebuah tulisan yang bagus… diperoleh dari e-mail seorang teman… cukup bikin gw merenung, bisakah gw nanti menjadi seorang kepala keluarga sekaligus imam buat keluarga gw?

 

Cinta atau Butuh?

Wednesday, January 17th, 2007

Last night, I had a chat with a friend. We talk about alot of things, mulai kerjaan, ampe ke masalah hati. Gw cerita bagaimana gw menjadi seseorang yang cukup brengsek kalo udah menyangkut soal hati. Gw bisa jadi annoying, menyebalkan, dsb.
Trus dia bertanya, "elo cinta atau butuh?". Gw bingung, karena gw ga bisa membedakan apakah gw cinta, atau karena gw butuh?
Setelah chit chat cukup lama dengan dia,gw akhirnya bisa mendapatkan gambaran apa yang disebut cinta, dan kebutuhan itu. Pada prinsipnya, susah untuk kita membedakan apakah kita betul-betul jatuh cinta ke dia, or kita hanya butuh dia. Terkadang kita baru sadar setelah kita jalan bareng ama dia. Kebutuhan manusia berubah dan berganti, seiring dengan berjalannya waktu dan bertambahnya usia. Mungkin orang yang di sisi gw masih sesuai dengan kebutuhan kita. Tapi pada satu titik, kebutuhan kita berubah, dan pada titik itu pula, kita akan mencari orang lain yang memenuhi kebutuhan kita. Tapi kalau cinta, apapun kebutuhan kita, kita akan selalu menginginkan dia bersama kita, dalam suka dan duka…dalam setiap kesempatan. Bukan melihat apa, siapa, dan bagaimana dia. Tapi ada suatu klik antara diri kita dan dirinya.
Mungkin banyak yang kita tau, ada 2 orang yang memiliki kecocokan ketika mereka berhubungan. Tapi pada akhirnya, salah satu dari mereka end up dengan orang yang bisa dibilang "ih, nggak lo banget deh!". Mungkin emang itulah cinta, kita ga melihat apakah dia cocok dengan kita, tapi ada satu titik yang membuat kita sreg dengan dia.
So, apakah elo memang mencintainya? ataukah lo hanya membutuhkannya?

Farewell my friends…

Monday, January 15th, 2007

Hari ini gw mendengar 2 berita duka.
Seorang teman dan ayahanda seorang teman yang lain, meninggalkan dunia ini, untuk menempuh kehidupan selanjutnya.

Sedih, walaupun gw ga cukup dekat dengan teman gw itu, dan belum pernah bertemu dengan sang ayah dari teman yang lain. Tapi cukup mengejutkan buat gw. Gw ga bisa membayangkan, bagaimana seandainya suatu hari nanti, orang-orang yang gw cintai pergi meninggalkan gw.

Apakah gw mampu bertahan, tabah menghadapi cobaan, dan melanjutkan hidup di dunia ini…

ah, terkadang kuat keinginan untuk meninggalkan dunia ini… terkadang gw berpikir, sekarang atau nanti, apa bedanya? Gw belum tentu juga menjadi orang yang lebih baik nanti.

tapi nampaknya Yang Kuasa masih memerintahkan gw untuk disini, mengisi dunia ini, menjadi saksi atas kegembiraan, kesedihan, kemarahan, dan berbagai macam hal yang terjadi di dunia ini. Dan tak lupa mempersiapkan kehidupan selanjutnya, agar berjalan lebih baik.

Well… farewell my friend, selamat menempuh kehidupan baru. Semoga kau bahagia dan kekal disana….

to Pantun, semoga elo memperoleh kebahagiaan kekal teman. Salam buat malaikat-malaikat yang ada disana.
buat Inco, be tough man, hidup mati seseorang sudah ada yang ngatur, kita ambil hikmahnya, dan dijadikan pelajaran kehidupan. ;)

New Kids on The Block

Friday, January 12th, 2007

gw pingin posting boysband favorit gw ahhh… hehehehe….

New Kids on The Block!

  NKOTB was a successful boy band of the late 1980s and early 1990s. Assembled in Boston in 1984 by producer Maurice Starr; the members consisted of brothers Jordan Knight and Jonathan Knight, Joey McIntyre, Donnie Wahlberg and Danny Wood.
The group went on to sell over 70 million albums worldwide, generated
hundreds of millions of dollars in concert revenues.

Lagu dari mereka yang pertama kalo gw suka adalah Step By Step

Step by Step 

Step by step
Gonna get to you girl

Chorus:
Step by step ooh baby
Gonna get to you girl
Step by step ooh baby
Really want you in my world

Hey girl in your eyes
I see a picture of me all the time
And girl when you smile
You got to know that you drive me wild

Step by step
Ooh baby
Youre always on my mind
Step by step
Ooh girl
I really think its just a matter of time

Chorus

Hey girl cant you see
Ive got to have you all just for me
And girl yes its true
No one else will ever do

Chorus

Step one
We can have lots of fun
Step two
Theres so much we can do
Step three
Its just you and me
Step four
I can give you more
Step five
Dont you know the time has arrived

hmmm… jujur, gw lagi dengerin mereka sekarang, sedikit bernostalgia :P

But For Now

Thursday, January 11th, 2007

Sure I know you’d like to have me
Talk about my future
And a million words or so to fill you in about my past
Have I sisters or a brother
When’s my birthday how’s my mother
Well my dear in time I’ll answer all those things you ask

But for now I’ll just say I love you
Nothing more seems important somehow
And tomorrow can wait come whatever
Let me love you forever but right now
Right now

Some fine day when we go walking
We’ll take time for idle talking
Sharing every feeling as we watch each other smile
I’ll hold your hand you’ll hold my hand
We’ll say things we never had planned
Then we’ll get to know each other in a little while

But for now let me say I love you
Later on there’ll be time for so much more
But for now meaning now and forever
Let me kiss you my darling then once more
Once more

But for now let me say I love you
Later on I must know much more of you
But for now here and now how I love you
As you are in my arms I love you
I love you
I love you

-song by jamie cullum-

somehow someway, lirik lagu ini lagi pas ama perasaan gw.. well.. not all of it…